Gundah Hati Pasien lantaran Rumah Sakit Ditutup Ahok


Reporter: Prima Gumilang, CNN Indonesia

Sabtu, 10/09/2016 14:37

Jakarta, CNN Indonesia — Setia Maryuni tampak cemas saat keluar dari pintu RS Menteng Mitra Afia (MMA). Dia terkejut mendengar kabar rumah sakit itu berhenti menerima pasien.

Ibu rumah tangga yang datang seorang diri ke RS MMA itu lantas mondar-mandir mencari informasi. Petugas keamanan segera menghampiri, berusaha menjelaskan kondisi rumah sakit tempatnya bekerja.

Setia diarahkan ke meja satpam. Di dinding samping meja itu, terlihat tempelan lembaran-lembaran pengumuman.“Berdasarkan surat dari Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Nomor 3894/-1.779.3 tanggal 5 September 2016, maka dengan ini kami memohon maaf tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan (poliklinik) kepada pasien RSU Menteng Mitra Afia.

Lembaran lainnya berbunyi, “Kami mohon doa dari anda semua agar Rumah Sakit Menteng Mitra Afia dapat beroperasi melayani anda kembali seperti semula.”Pengumuman tersebut dibubuhi tanda tangan dari manajemen rumah sakit, lengkap dengan stempel. Sore itu, Kamis (8/9), Setia sesungguhnya hendak menjalani diagnostik ultrasonografi sebelum dioperasi ginjal. Ia sudah menunggu giliran operasi sejak setengah tahun lalu.

“Saya mau rontgen. Saya baru tahu kabar rumah sakit (ditutup) hari ini. Kalau begini, ke mana saya operasi?” ujarnya, gelisah. Saat bertanya kepada karyawan yang bertugas di dalam RS, Setia tak mendapat jawaban memuaskan. Menurutnya, petugas RS MMA pun kebingungan.

Setia pun membaca lebih rinci berbagai pengumuman yang ditempel di dinding. Di situ dituliskan informasi bahwa pelayanan RS MMA dialihkan sementara ke tiga rumah sakit, yaitu RS M Ridwan Rais, RS MH Thamrin, dan RS PGI Cikini. api ia masih bingung.“Kalau dialihkan ke tiga rumah sakit itu, rujukannya bagaimana? Masih berlaku atau enggak rujukan di sini? Karena ini belum habis masa tenggangnya,” kata warga Manggarai, Jakarta Selatan itu.

Setia adalah pasien BPJS Kesehatan. Pelayanan kesehatan yang ia terima seminggu sekali. Setiap Kamis, dia datang ke RS MMA untuk memeriksakan diri menjelang operasi.

Kini menyusul penutupan RS MMA oleh Pemprov DKI Jakarta pimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama, layanan BPJS Kesehatan di rumah sakit itu pun ikut ditutup sampai batas waktu yang tak ditentukan. Setia pun pulang lantaran tak mendapat kepastian.

RS Menteng Mitra Afia terletak di tengah permukiman warga. Rumah sakit itu beralamat di Jalan Kali Pasir, Menteng, Jakarta Pusat –lima kilometer dari Istana Negara.

Petang menjelang. Setelah Setia pulang, giliran pasien lain datang. Maryono Taslim, seorang pria 66 tahun, mengantar cucunya yang beranjak dewasa, Adi Lesmana. Pemuda 21 tahun akan menjalani operasi mata. Dia telah menunggu antrean sejak lima bulan lalu, Maret. Sebelum ini, Adi telah melakukan deretan pemeriksaan mata. Ini operasi penting bagi Adi. Nahas, pada hari H operasi, RS MMA telah ditutup. Maryono langsung risau. Ia heran kenapa RS MMA ditutup. Sang kakek merasa tak pernah menemui persoalan selama berobat di rumah sakit itu.

Maryono yang tinggal di Kramat Sentiong, Jakarta Pusat, selama ini justru terbantu karena selalu bisa berobat gratis di RS MMA.“Nyaman berobat di sini, enggak bayar. Cuma diminta tanda tangan,” kata Maryono.

Adi sang cucu tak pernah dipungut biaya karena menggunakan Kartu Jakarta Sehat. RS MMA menjadi rujukan puskesmas di wilayah tempat tinggal Maryono.

Kabar soal penutupan RS MMA sesungguhnya telah didengar Maryono dan Adi dari pemberitaan selintas di televisi. Kabar yang ternyata benar itu membuat mereka mencari informasi lebih detail. Sayang, rumah sakit rujukan pengganti MMA belum mereka peroleh. “Kalau begini, kami bingung mau dirujuk ke mana,” kata Maryono.

“Ada masalah apa, kami juga kurang tahu karena selama ini enggak ada masalah bagi kami,” imbuhnya. Tiga hari sebelumnya, Maryono dan Adi juga datang ke RS MMA. Namun, saat itu mereka belum menyadari bahwa hari itu adalah hari terakhir rumah sakit beroperasi.

Sumber: CNN Indonesia

Menanggapi kasus tersebut, Rini Anggraeni, SKM, M.kes selaku Dosen Manajemen Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat berpendapat bahwa karena izin operasional sudah dibekukan maka pasien harus dipindahkan segera ke rumah sakit lainnya apalagi dalam rumah sakit tersebut juga ada pasien BPJS. Pemberhentian izin operasional tentunya berhubungan dengan adanya pelanggaran terhadap peraturan yakni karena tidak memenuhi prosedur Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 54 Tahun 2014 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit. Oleh karena itu pihak rumah sakit hendaknya pihak rumah sakit tidak mengabaikan peringatan untuk segera mengurus izin operasionalnya kembali dengan menyelesaikan masalah-masalahnya terlebih dahulu agar bisa memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien sebagaimana tugas dan fungsi rumah sakit yang sesungguhnya. 

Categories: Kesehatan | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan di HMSC untuk pengembangan web blog ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: