Current Issue Perumahsakitan… Cekidot … … !!!


Dua Rumah Sakit Dapat Rapor Hitam

MATARAM,  Tak disangka, kerusakan lingkungan di NTB turut disumbangkan oleh rumah sakit. Tahun ini, Badan Lingkungan Hidup dan Penelitian (BLHP) NTB mencatat ada dua rumah sakit yang mengabaikan pengelolaan limbahnya. Sehingga, memberi dampak buruk bagi lingkungan. Dari sekian perusahaan yang diuji, ada dua rumah sakit yang paling buruk pengelolaan limbahnya.

Fakta ini terungkap setelah BLHP NTB melakukan peringkat kinerja perusahaan (proper) tahun 2015. Selain rumah sakit, industri perhotelan, pertambangan, hingga pembangkit listrik juga ikut menjadi objek pengawasan. Penilaian ini mengacu pada Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) yang sudah disepakati. Apakah operasionalnya sudah sesuai Amdal atau tidak.

Hasilnya, ada dua rumah sakit yang disebut melakukan pencemaran berat. Sehingga, diberikan raport hitam. Dua rumah sakit yang dimaksud yakni RSUD dr Soedjono Selong, Lombok Timur dan RS Risa Mataram. Peraih proper hitam berarti melakukan pencemaran berat.

Untuk dua rumah sakit yang berapor hitam sendiri, sudah dilayangkan peringatan keras berupa surat yang memaksa perusahaan terkait agar segera melakukan pembenahan sesuai aturan yang tertuang dalam dokumen Amdal. BLHP NTB sendiri akan melakukan pembinaan selama satu tahun penuh terhadap perusahaan bersangkutan. Yang rapor hitam tidak langsung kita hentikan operasionalnya. Masih kita beri pembinaan selama satu tahun dan selama jangka waktu itu harus ada perubahan.

Rumah Sakit dan klinik Nakal Bikin Anggaran BPJS Defisit

Tidak jujurnya rumah sakit maupun klinik dalam melayanani pengguna BPJS membuat pemerintah terancam mengalami kerugian besar. Tidak tanggung-tanggung, pemerintah bakal defisit anggaran BPJS hampir mencapai Rp 6 triliun.

Hal itu diungkapkan Indonesian Hospital Watch. IHW menduga terjadi moral hazard yang dilakukan oleh pihak faskes (rumah sakit dan klinik) yang menjadi mitra BPJS Kesehatan RI. Faskes terindikasi ingin meraup keuntungan ekonomi sebesar-besarnya.

Misalnya, melakukan pemeriksaan dan perawatan yang tidak perlu. Pasien (peserta JKN BPJS Kesehatan) yang harusnya tidak perlu dirawat, dianjurkan untuk rawat inap. Tindakan medis yang sebenarnya tidak dilakukan, dimasukan dalam daftar tindakan medis yang dilakukan.

Contohnya, pemasangan infus yang faktanya hanya dilakukan satu kali, dilaporkan sebanyak dua kali. Anjuran pemeriksaan yang seharusnya tidak perlu dilakukan, dengan adanya jaminan pembiayaan JKN BPJS Kesehatan, akhirnya dianjurkan untuk dilakukan.  Adalah lagi pemeriksaan lab misalnya, pemeriksaan x-ray, CT-Scan dll, yang tidak sesuai indikasi medis.Hal itu yang dilakukan faskes selama 2 tahun penyelenggaraan BPJS. Tak ayal, anggaran BPJS yang dianggarkan mengalami defisit.

Meski demikian, pemerintah dan Komisi XI DPR menyepakati pencairan cadangan pembiayaan BPJS Kesehatan Rp 1,54 triliun dalam APBNP 2015. Dengan uang tunai tersebut, BPJS Kesehatan mampu membayai klaim peserta BPJS di sejumlah rumah sakit seluruh Indonesia, sehingga potensi gagal bayarBPJS Kesehatan RI ke pihak Faskes yang menjadi mitra BPJS Kesehatan dapat dihindari.

Sedikit Rumah Sakit Gunakan Konsep Green Hospital

Meskipun banyak rumah sakit di Indonesia mengusung konsep green hospital, namun di lapangan penerapan green hospital tidak seluruhnya dilakukan. Saat ini masih banyak rumah sakit   yang menerapkan green hospital tidak sepenuhnya melakukannya, tetapi  hanya sebatas pada tatanan penanaman pohon saja atau hanya slogan saja. Penerapan green hospital itu harus betul-betul diterapkan dari berbagai aspek, mulai dari konsep bangunan, sanitasi air, penghijauan hingga pemanfaatan energy.

RS Melinda 2 contohnya, RS yanga ada di kota Bandung ini sangat luar biasa penampilannya, bukan seperti rumah sakit saat masuk tapi hotel, ada tempat permainan anak, terlihat tidak menyeramkan karena space nya luas, tidak lorong-lorong halnya rumah sakit saat ini. Rumah sakit yang mengedepankan konsep green hospital seperti Melinda 2, mengusung konsep kesehatan secara keseluruhan. RS Melinda 2, seperti rumah sehat yang lebih memperhatikan semua aspek, ini konsen terhadap kesehatan secara menyeluruh baik bagi pasiennya, dokternya hingga karyawannya dan berkonsep.

Pecahkan Rekor MURI, PT KAI Luncurkan Kereta Rumah Sakit Pertama

PT Kereta Api Indonesia telah resmi meluncurkan kereta kesehatan pertama Republik Indonesia yang dinamai Rail Clinic. Peluncuran ini sekaligus masuk ke dalam catatan Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai klinik kereta pertama di Indonesia.

Menurut Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro, pembuatan Rail Clinic ini sendiri bertujuan untuk membantu pemerintah dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat, terutama wilayah terpencil yang masih minim fasilitas kesehatan. Dia pun berharap masyarakat yang tinggal di sekitar jalur KA bisa mendapatkan fasilitas ini.

Pembuatan kereta ini sendiri membutuhkan waktu selama 70 hari dengan biaya Rp 1,5 miliar. Sedangkan untuk pengoperasiannya dibutuhkan 4 orang kru teknis dan 10 orang dokter serta perawat. Kereta ini sendiri terdiri dari dua kereta di mana kereta pertama digunakan sebagai ruang pelayanan, dari pemeriksaan umum hingga pemeriksaan gigi dan mata. Sementara kereta kedua digunakan sebagai kamar rawat seperti layaknya rumah sakit.

Edi mengatakan jika mereka menargetkan akan memiki 4 Rail Clinic. Dua Rail Clinic akan dioperasikan di pulau Jawa dan 2 lainnya di Sumatera. Kereta ini pun akan beroperasi pertama kali pada 19 Desember dengan tujuan pertama stasiun Wojo, Purworejo, Jawa Tengah.

 Rumah Sakit di Malaysia Adopsi Konsep Syariah RS di Indonesia

Konsep syariah yang diimplementasikan oleh Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung di Semarang, Jawa Tengah, mendapatkan apresiasi dari delegasi sejumlah rumah sakit Islam dari Malaysia. Konsep syariah ini bahkan bakal diadopsi untuk diterapkan di sejumlah rumah sakit Islam, yang ada di negara tetangga tersebut.

Hal ini terungkap dalam studi banding yang dilakukan empat rumah sakit Islam asal Malaysia di RSI Sultan Agung Semarang, akhir pekan kemarin. Dr Ishaq Daud, delegasi dari Al Islam Specialist Hospital, Kuala Lumpur mengatakan, RSI Sultan Agung telah berhasil mengkombinasikan layanan kesehatan dengan nilai-nilai syariah.

Secara khusus, Ishaq sangat mengapresiasi beragam fasilitas layanan berbasis syariah yang telah diberikan di rumah sakit yang bernaung di bawah Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung (YBWSA) ini. Salah satunya adalah layanan tayamum pad yang disediakan pihak rumah sakit bagi para pasien. Ini sesuatu yang special dan belum pernah ada di rumah sakit Islam yang ada di Malaysia.

Tidak hanya itu, penilaian layanan kesehatan unggulan yang kini dimiliki oleh RSI Sultan Agung Semarang merupakan satu kemajuan luar biasa dari sebuah rumah sakit Islam. Studi banding ini menjadi pengalaman yang sangat berharga. Bahkan ada keinginan besar berbagai pelajaran dari studi banding ini bakal disebarluaskan kepada beberapa rumah sakit yang belum terstandarisasi nilai syariah di negerinya. Konsep syariah yang diterapkan pada layanan kesehatan seperti yang diimplementasikan RSI Sultan Agung ini tak lepas dari upaya para stakeholder dalam meraih predikat mumtaz (sempurna) dari Majelis Syuro Upaya Kesehatan Islami (MUKISI).

Sementara itu, studi banding pengelolaan rumah sakit Islam kali ini diikuti sedikitnya empat manajemen pengelola rumah sakit Islam di Kuala  Lumpur. Empat rumah sakit tersebut adalah Al Islam Specialist Hospital, Pusrawi Hospital, International Islamic University of Malaysia (IIUM) Medical Specialist dan Hospital Islam Az Zahrah (HIAZ).

Direktur Utama (Dirut) RSI Sultan Agung Semarang, dr H Masyhudi AM MKes mengatakan, konsep rumah sakit syariah yang dikembangkan di RSI Sultan Agung mengacu pada maqashid asy syariah salah seorang ulama ahlussunnah terkenal, Imam Syatibinya.

Konsep syariah ini membagi lima perkara yang meliputi hifdzuddin (memelihara agama),hifdzunnafs (memelihara jiwa), hifdzul’aql (memelihara fikiran/akhlak), hifdunnasl (memelihara keturunan) dan hifdulmal (memelihara harta) Artinya, dalam memberikan layanan kesehatan kepada setiap pasien, RSI Sultan Agung senantiasa mengedepankan serta memelihara prinsip dari lima hal keutamaan ini.

Categories: Kesehatan | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan di HMSC untuk pengembangan web blog ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: